in

Yamaha Tone Made Easy di Medan Tiba-tiba Selesai Begitu Saja

Jumat malam lalu sebenarnya saya ingin pulang saja ke rumah sehabis kerja. Belakangan ini saya memang agak malas nongkrong di kedai kopi atau sejenisnya. Bukan apa-apa, waktu senggang saya belakangan ini lebih sering saya gunakan untuk membaca partitur gitar klasik dan melatih beberapa repertoar gitar klasik. Kebiasaan yang sudah sempat lama sekali kutinggalkan.

Tapi, malam itu akhirnya saya putuskan bergabung dengan teman-teman di komunitas Medan Blues Society untuk meramaikan acara Yamaha Musik Indonesia bertajuk Tone Made Easy.

Acara yang diadakan di My Burger Coffee di Jalan Sei Petani, Medan ini lumayan seru sebenarnya. Karena musisi yang dihadirkan untuk mengisi klinik musik bukan sembarang musisi. Sebut saja gitaris Denny Chasmala, bassis Samue Malik dan Agung Gimbal. Ketiganya merupakan endorsee Yamaha. Logikanya, tak mungkin Yamaha mengendorse mereka kalau tak jago di bidangnya. Betul nggak?

Malam itu, hadir beberapa pemain musik dari berbagai komunitas, antara lain komunitas Medan Guitar Family, Medan Guitar Jamm, Bass Komunitas Medan, Musiman Rock Jamming dan beberapa talent yang oke punya permainannya.

Ketika saya datang, waktu sudah mengarah ke jam sembilan. Beberapa orang sedang check sound dan tak lama kemudian tampil dua orang bassis dari Baskomed. Kemudian, saya sempat menyaksikan Musiman Rock Jamming yang memainkan tiga lagu, dan permainan drummer muda Doli Lasidos. Permainan kawan-kawan gitaris dari Medan Guitar Family juga nggak kalah oke.

Kemudian, saya sempat mengikuti klinik musik Denny Chasmala, Samuel Malik dan Agung Gimbal hingga selesai. Selain menunjukkan kebolehan alat musik Yamaha yang mereka mainkan, ketiganya bicara pengalaman tentang bagaimana musisi bisa survive di industri musik Indonesia.

Mungkin bukan hanya saya yang sudah tak sabar menunggu ketiganya tampil, hingga salah seorang yang hadir berteriak kecil dengan mengatakan, “Mainlah dulu…” Rupanya, Denny mendengarnya lalu mengajak Samuel dan Agung memainkan musik instrumental.

Sayang, penampilan mereka tidak didukung dengan tata panggung yang sepadan dengan brand Yamaha. “Masa Yamaha bikin acara panggungnya seperti ini,” kata salah seorang yang hadir. Beberapa orang berharap event sebagus itu digelar di ruangan tertutup indoor dengan tata panggung yang sepadan dengan artis yang dihadirkan.

Sempat juga muncul protes karena run down tak sesuai jadwal hingga membuat beberapa orang dari komunitas tidak jadi ikut bermain. Setelah klinik berakhir, sekitar 10.30 WIB, acara terpaksa diakhiri dengan alasan tempat dan waktu tidak memungkinkan.

Pemilihan lokasi dinilai kurang tepat karena café berada di lokasi lingkungan pemukiman, yang kabarnya tempat tinggalnya beberapa kalangan elit Medan. Apa boleh buat, ketidakprofesionalan event organizer membuat acara itu menjadi kurang seru.

Penulis, editor, blogger, founder Blogger Medan Community, tinggal di Medan. Bermain gitar klasik di waktu senggang, penikmat manual brewing coffee. Dapat dihubungi via email tonggo17@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Indonesia Termasuk Paling Rentan Terhadap Serangan Malware