in ,

Revolusi Industri Musik di Era Digital

Foto: PexelsCom
Foto: PexelsCom

Masihkah label mainstream menjadi tujuan utama di industri musik di era digital masa kini? Hadirnya media sosial dan situs atau aplikasi market place musik semakin menunjukkan revolusi industri musik terus berputar.

Suatu kali digelarlah sebuah ‘music gathering’ di sebuah kafe kawasan Jl. Dr. Mansyur, Medan. Waktu itu, puluhan band Medan berkumpul karena yang hadir sebagai pembicara, Teddy Riadi (Artist and Repertoire Manager Musica Studio’s), Baron (musisi) dan jurnalis musik majalah Rolling Stone Indonesia, Wendi Putranto. Topik pembicaraannya tentang persaingan band lokal menembus label major dan kiat-kiat untuk mempromosikan band dan album.

Topik ini memang cukup menarik untuk band lokal yang terobsesi untuk dapat eksis di industri musik mainstream. Topik itu juga dianggap sangat bermanfaat mengingat sejauh ini tak mudah buat band lokal untuk dapat menembus label major di tengah ketatnya seleksi dari pihak label major itu sendiri.

Teddy memberi pemaparannya dengan memberi gambaran keberhasilan beberapa band yang namanya kini sudah eksis di industri musik nasional. Misalnya, d’masiv, jebolan ajang pencarian bakat A Mild Wanted 2007. Juga, band daerah, seperti Hijau Daun, Kangen Band maupun ST 12.

Gathering itu cukup direspon antusias oleh anak-anak band Medan yang hadir malam itu. Apalagi saat Wendi Putranto memaparkan topik yang tak kalah menarik, yaitu tips-tips mempromosikan band, mulai dari pembuatan ‘promo kit’; bagaimana mengorganisir sebuah band agar memiliki nilai jual dan menjadi pembicaraan banyak orang; bagaimana menjadikan sebuah band agar memikat jurnalis musik untuk menulis profil atau musik band tersebut. Dan yang paling utama, bagaimana caranya sebuah band bisa menarik simpati produser musik yang bernaung di bawah label major.

“Anak band sekarang lebih enak dibanding jaman-jamannya God Bless atau band-band seangkatannya. Dengan canggihnya media komunikasi berbasis online, anak band sekarang sudah bisa mempromosikan band dan musiknya lebih luas. Misalnya, dengan adanya MySpace, dll. Tapi, itu sekaligus menjadi tantangan, mampukah band-band lokal mengikuti perkembangan teknologi itu dengan membuat musik-musik yang berkualitas dan mampu menarik simpati pendengar musik?” tantang Wendi.

Terlepas dari apa pun, yang jelas topik yang dipaparkan saat itu begitu menarik. Beberapa anak band yang hadir saat itu malah sempat melemparkan pertanyaan-pertanyaan kritis, terutama menyangkut kendala-kendala yang dihadapi band lokal untuk mampu menembus label major.

Tapi, yang menjadi pertanyaan ialah, apakah eksistensi sebuah band hanya bisa dinilai dari keberhasilannya menembus label major? Mungkin perlu diingatkan kembali bahwa di awal karirnya, The Beatles pertama kali merekam albumnya di label ‘bukan mainstream’ alias indie label, yakni Apple Record pada tahun 1960-an, sebelum merekam albumnya di label mainstream seperti Decca atau EMI. Atau Rolling Stone yang merekam album pertamanya di label indie bernama The Rolling Stones Record. Toh, pada akhirnya, kedua band ini telah melegenda hingga sekarang.

Sebenarnya, di Medan pernah ada label-label rekaman indie, seperti Huria Record! Maupun Evilusound Record. Sayangnya, kedua label indie ini tidak benar-benar dimanfaatkan band-band Medan untuk mengangkat pamor musik lokal Medan. Pada tahun 2006, Huria Record! pernah merilis album kompilasi indie Medan. Beberapa kali juga dibuat konser-konser kecil untuk komunitas band indie. Tapi, kabarnya tak lagi terdengar sekarang.

Mesin uang industri

Memilih jalur indie untuk musik, harus diakui, juga tak segampang yang dibayangkan. Setidaknya, tak perlu harus ‘menggadaikan’ idealisme untuk bisa eksis, walaupun itu harus dibayar dengan mahal. Mungkin, akan berbeda jauh bila berhasil menembus label major.

Memang, kalau misalnya satu band berhasil menembus label major, akan banyak profit yang akan didapat. Mulai dari promosi besar-besaran (salah satunya lewat pembuatan video klip), distribusi yang jelas dan lebih luas, kontrak album, jadwal roadshow yang makin padat, mendapat royalty dari penjualan album, dan yang lebih mengasyikkan ialah kemungkinan untuk populer sangat besar dan berpotensi menjadi bintang iklan.

“Jadi musisi itu paling enak. Selain terkenal juga banyak uang,” begitulah agitasi Wendy saat itu kepada anak band Medan yang berkumpul malam itu. “Jadi musisi itu juga gampang, tinggal buat band, bikin lagu, promosikan musik kamu, syukur-syukur bisa diterima langsung label major, band kamu bisa langsung melejit,” sambung Wendi.

Tentu saja itu semua sangat menggiurkan bukan? Tak heran bila tak banyak band yang terobsesi untuk bisa menembus label major. Tak sedikit juga band yang awalnya bisa dikatakan idealis mulai mencoba membuat musik yang mengikuti selera pasar buatan major label.

Sebutlah misalnya band Armada yang telah berhasil menembus label major. Band yang kini bernaung di bawah major label ini mengaku, di formasi awal, mereka adalah band yang idealis tanpa peduli selera pasar dan kemauan pihak label yang mengontrak mereka. Seiring peralihan aliran bermusik itu, Armada yang menolak dicap sebagai band yang ‘mendayu-dayu’ itu juga mengaku, sepanjang mereka eksis di industri musik, mereka akan terus bermusik sesuai dengan selera penikmat musik Indonesia.

Mau eksis di musik memang harus memiliki pilihan. Tergantung mau jadi populer dan kaya lewat musik, atau menganggap musik itu sebagai seni yang seharusnya tidak bisa dinilai lewat uang dan popularitas.

Ini seperti dikatakan Herman Li, gitaris Dragon Force, yang pernah tampil. “Saya tidak mau menjadi mesin uang untuk industri musik. Bermusik bagi saya bukan untuk mencari popularitas. Bagi saya musik adalah seni, dengan begitu saya bisa bermain lebih bebas. Soal popularitas dan uang itu urusan nomor dua,” ujar gitaris metal yang ‘diendors’ merk gitar Ibanez itu .

Nah, di era media sosial sekarang, di kala Instagram dan YouTobe telah menjadi media publikasi untuk musik, masihkah upaya menembus label nasional menjadi tujuan utama bermain musik. Apalagi dengan adanya market place untuk musik seperti Spotify, Deezer, Bandcamp, iTunes dan sejenisnya, dimana musisi atau band sudah dapat menjual musiknya secara digital?

Digitalisasi musik ini telah berkontibusi besar terhadap pevolusi industri masa kini, tinggal bagaimana terlibat di dalamnya.

Penulis, editor, blogger, founder Blogger Medan Community, tinggal di Medan. Bermain gitar klasik di waktu senggang, penikmat manual brewing coffee. Dapat dihubungi via email tonggo17@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menjadi CEO dari Co-Working Place

Bagaimana Mengoptimalkan Website Perusahaan