in

Menjadi CEO dari Co-Working Place

Foto: Pexels.com

Co-working space membuka kesempatan bagi penggiat start up untuk menjadi CEO, sekaligus menjadikan mereka sebagai manusia homo faber. Lho, kok bisa?

Pernahkah Anda dicap pengangguran oleh tetangga karena tidak punya kantor, padahal sebenarnya Anda bekerja mati-matian siang dan malam, sampai kantong mata mau jatuh karena keseringan lembur, demi menghasilkan ratusan bahkan ribuan dolar dari pekerjaan sebagai freelancer?

Ya, tetangga kadang memang kejam. Mereka suka menilai dari luarnya saja. Ironisnya, uang memang kadangkala tak bisa mengubah status. Sekalipun Anda freelancer berpenghasilkan kelas direktur utama, bagi tetangga Anda, cap pengangguran atau gelar Drs (di rumah saja) tetap melekat dalam diri Anda. Jika sudah begitu, ada baiknya mendatangi dukun terdekat. Eh, bukan, maksud saya mendatangi tempat bernama co-working space dan temukan orang-orang yang mungkin senasib sepenanggungan dengan Anda. 😊

Bagi freelancer, sakit benar memang hati bila dicap pengangguran karena tak punya jam kerja nine to five, punya kantor dan punya status seperti kebanyakan orang. Pagi masih di rumah, sementara orang lain sudah pergi buru-buru ke kantor, takut terlambat dan malamnya pulang bawa tas kerja. Tetangga pun senang. Kita berhasil menjadi homo faber. Manusia yang menjadi manusia seutuhnya karena bekerja sebagaimana layaknya orang bekerja dari pagi sampai sore atau malam.

Tapi, benarkah harus begitu?

Atau, apakah masih malu dicap pengangguran karena tidak termasuk kategori homo faber. Jika masih punya rasa malu begitu, Anda bisa menemui teman-teman Anda di tempat bernama co-working place. Mungkin itu adalah solusi terbaik.

Mengapa? Di tempat ini, setidaknya Anda sudah punya “kantor” yang bisa Anda datangi sesuka hati, kapanpun Anda mau. Mau menerapkan jam kerja dari jam sembilan pagi ke sampai jam lima sore, terserah. Yang penting Anda sudah punya “kantor” sekarang, tanpa harus melamar menjadi karyawan lebih dulu.

Di tempat ini, Anda jadi bos untuk Anda sendiri. Perusahaan yang Anda bangun, maju mundurnya ada di tangan Anda. Yang pasti, Anda akan terbebas dari cap pengangguran. Itu dulu yang pertama. Status sudah ada punya di mata tetangga. You are save now! Jangan bersedih lagi.

Lalu, apakah hanya itu solusi yang ditawarkan co-working space?

Ow, tentu saja tidak.

Di tempat ini, ada banyak orang kreatif yang punya aktivitas mirip seperti Anda. Pada umumnya, mereka freelancer yang mengembangkan usaha rintisan berbasis internet atau digital—atau istilah kerennya start-up business. Keahlian mereka beragam. Ada desainer, programmer, content writer, blogger, buzzer, fotografer, videomaker, ilustrator, ahli IT dan turunan-turunannya. Konon, aplikasi e-commerce dan sejenisnya, banyak yang lahir dari tempat bernama Co-working space.

Bagi spacer—ini julukan yang saya buat-buat sendiri—ada banyak peluang bergabung di lingkaran (circle) co-working space. Ketika bergabung dalam lingkaran itu, maka koneksi telah terjalin dan intinya Anda tidak lagi sendirian di dunia ini. Yes, you are not alone anymore! Kini, ada banyak orang yang bisa ajak berkonsultasi atau bekerjasama untuk mengembangkan ide-ide bisnis Anda.

Bahkan tak hanya itu, di tempat seperti inilah Anda punya kesempatan bertemu investor yang bisa saja tertarik menyuntikkan dana untuk ide bisnis Anda. Kenapa kesempatan seperti itu ada? Tak lain karena pengelola co-working space biasanya rutin menggelar event berupa workshop, seminar maupun pertemuan antara investor dan pelaku start-up.

Nah, ini tentu saja tidak Anda dapatkan kalau hanya bekerja sendirian di rumah, kan? Artinya, di co-working space-lah peluang mengubah nasib dari seorang freelancer rumahan menjadi CEO. Hmm, makin penasaran kan?

Di beberapa kota besar seperti Jakarta telah mulai bermunculan co-working space dengan berbagai konsep dan atmosfer. Nah, kalau di Medan sendiri, kini ada beberapa pelaku industri kreatif yang merintisnya. Sebut saja, Icon dan Clapham Collective.

Apakah Anda sudah siap jadi CEO? Kenapa tak mulai dari co-working space saja?

Penulis, editor, blogger, founder Blogger Medan Community, tinggal di Medan. Bermain gitar klasik di waktu senggang, penikmat manual brewing coffee. Dapat dihubungi via email tonggo17@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Ikuti Tantangan Shopee Indonesia, Hadiah Rp100 Juta Menunggu

Revolusi Industri Musik di Era Digital