in

Menghidupkan Gitar Klasik di Medan, Mustahilkah?

Foto: PixabayCom

Selama lebih dari satu dekade mengamati perkembangan gitar klasik di Medan dan terjun ke dalamnya, sedikit banyaknya, dapat disimpulkan bahwa tak banyak komunitas yang benar-benar eksis dan serius untuk bermain di jalur musik ini. Maafkan saya kalau salah menilai. Yang saya amati sejauh ini, gitar klasik memang memiliki prestisi sendiri, namun tetap saja belum memberi angin segar: untuk musisinya, penikmatnya, maupun investor yang belum melihatnya sebagai media bisnis yang menjanjikan.

Saya ingin memberi contoh cakupan kecil untuk sekitar kota Medan saja. Sebenarnya, tak sedikit orang yang gemar menekuni gitar klasik. Memang, persentasenya masih jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan anak-anak muda yang menekuni gitar elektrik. Namun, bisa dirasakan juga bahwa kecintaan orang terhadap gitar klasik masih ada. Sayangnya, keberadaannya belum mampu menghasilkan applaus yang meriah dan tepuk tangan yang begitu meriah dari ribuan penonton.

Hal ini tidak bisa dipungkiri dari beberapa alasan. Salah satunya ialah gitar klasik dianggap tetap berkutat pada dunianya sendiri dan jarang melakukan terobosan, terutama dari segi bisnisnya. Sebagai bukti, pada akhirnya orang lebih suka belajar gitar elektrik karena peluangnya untuk berkarir di musik lebih besar. Misalnya, bergabung dalam sebuah band, merilis album dan syukur-syukur punya nama besar.

Beda misalnya dengan gitar klasik. Peluang untuk berkarir di sini jauh lebih kecil. Kebanyakan gitaris klasik yang sudah bangkotan sekalipun, kalau tidak punya kesempatan untuk main dalam sebuah band, ujung-ujungnya akan menjadi dosen atau instruktur musik di sekolah-sekolah.

Alasan lain, belum adanya upaya maksimal untuk menciptakan apresiasi terhadap gitar klasik itu sendiri. Gitar klasik akhirnya semakin menyendiri di tengah booming-nya berbagai genre musik yang merasuki anak-anak muda. Musik jazz misalnya, yang sedang booming. Yang terjadi, misalnya, kemudian ialah gitar klasik masih memiliki peluang kecil untuk tampil secara profesional di kafe, hotel atau tempat-tempat sejenisnya.

Saya cukup gembira ketika sebuah kafe di hotel berbintang di Medan menampilkan gitaris klasik untuk menghibur tamu-tamu yang sedang minum kopi ataupun sekadar kongkow di kafe itu. Sayangnya, moment ‘gitar klasik’ itu tak bertahan lama. Apakah gerangan penyebabnya? Mungkinkah karena kafenya yang sepi pengunjung, atau memang musik klasik dengan instrumen gitar tak begitu dinikmati tamu-tamunya? Entahlah…

Meski demikian, ibarat malu-malu kucing, gitar klasik tetap (dan akan selalu) dianggap sebagai salah satu induknya alat musik. Gitar klasik masih disegani sebagai salah satu instrumen yang tidak mudah dipelajari. Tak sedikit yang percaya, gitar klasik mengajarkan banyak hal untuk proses belajar gitar ke tingkat yang lebih tinggi.

“Seseorang yang sudah menguasai teknik bermain gitar klasik akan lebih mudah masuk ke jenis musik apa pun. Paling tidak mereka sudah dapat membaca not dan simbol-simbol musik. Dengan teknik yang sudah benar, mereka juga bisa dengan mudah mainkan musik apa saja dengan gitar. Termasuk jazz,” jelas Amran Lubis, instruktur gitar klasik senior di Era Musika Medan.

Sayangnya, karena alasan yang sudah disebutkan atas tadi, tak sedikit gitaris klasik yang ‘selingkuh’. Mereka berpindah haluan dengan membentuk band dan mulai memainkan gitar elektrik. “Itu sah saja. Tapi sayang sekali kalau gitar klasiknya dilupakan. Boleh saja pindah haluan, tapi gitar klasik harusnya dijadikan pegangan,” komentar Wonter Lesson Purba, gitaris klasik Medan yang kini berprofesi sebagai instruktur musik di beberapa sekolah musik di Medan.

Sebuah Gagasan

Masih minimnya antusiasme terhadap gitar klasik, saya pikir, harus disikapi dengan melihat realitas yang ada. Lalu, memecahkan persoalan yang terjadi itu dengan beberapa gagasan yang kreatif.

Satu hal yang perlu digagas ialah membentuk komunitas untuk menciptakan minat yang lebih luas lagi. Setelah komunitas terbentuk satu, dua, tiga, barulah kemudian digagas event-event gitar klasik. Mungkin dengan menggelar resital kecil-kecilan antar komunitas atau antar sekolah musik.

Cara lain yang tak kalah efektif ialah dengan menggelar workshop kecil-kecilan dengan mendatangkan gitaris-gitaris senior yang sudah sukses. Misalnya, Jubing Kristianto yang telah berhasil mengangkat pamor gitar klasik di Indonesia. Atau, menggagas kompetisi-kompetisi gitar klasik antar sekolah.

Dari segi entertain, alangkah baiknya juga, kalau dipikirkan bagaimana agar gitar klasik diterima kembali di hotel, kafe atau tempat-tempat nongkrong sejenis di mana orang biasa menikmati kenyamanan. Perlu digagas juga bagaimana mengemas gitar klasik agar benar-benar dinikmati di tempat-tempat tersebut.

Penulis, editor, blogger, founder Blogger Medan Community, tinggal di Medan. Bermain gitar klasik di waktu senggang, penikmat manual brewing coffee. Dapat dihubungi via email tonggo17@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Microsoft Persiapkan Kantor Advokat Modern

Ini Dia Teknologi Interaktif Terbaru Sony Music Entertainment