in

Festival Kopi Toba yang Cuma Cakap Saja

Festival Kopi Toba (Coffee Festival Toba) menjadi pembuka Kalender Pariwisata Danau Toba 2017 yang diumumkan Kementrian Pariwisata (Kemenpar) melalui media menjelang akhir Maret lalu. Berita gembira itu sontak disambut begitu antusias oleh berbagai kalangan, termasuk para pelaku bisnis kopi. Rencananya, Coffee Festival Toba akan digelar di Sipincur, Kabupaten Humbahas, pada 20-21 Mei 2017.

Namun, sayangnya rencana itu tidak terjadi alias hanya di mulut saja. Orang Medan bilang “cuma cakap saja”. Kok bisa disebut begitu? Begini ceritanya…

Suatu siang di bulan Maret setelah berita yang dimuat di berbagai halaman media nasional itu, telepon saya berdering. Panggilan dari seseorang yang tidak saya kenal nomornya dan tidak tercatat di ponsel saya. “Saya US. Saya tahu nomormu dari MD. Dia teman baik saya dan percaya bila dia yang meremendasikan. Bisa jumpa? Saya mau ngobrol-ngobrol dulu soal rencana event Coffee Festival Toba,” kata perempuan yang belakangan saya ketahui ternyata aktif di sebuah asosiasi UKM di Medan itu.

MD merekomendasikan nama saya karena buku Medan Coffee Guide yang saya tulis. Setelah ngobrol sana-sini lewat ponsel, kami pun sepakat bikin janji ketemu di salah satu kedai kopi di kawasan Jalan Ringroad. Agak molor dari waktu yang ditentukan, US pun datang ditemani suaminya.

Singkat cerita, dia pun memaparkan rencana event Coffee Festival Toba. “Rencananya mau bikin pameran kopi lokal Sumatra Utara, kompetisi barista dan kunjungan ke kebun kopi. Biar ramai, nanti artis Batak juga akan diundang dan dipandu MC yang profesioal. Nanti Menpar akan membuka dan Gubsu juga kemungkinan besar akan datang,” terangnya. US minta saya terlibat di dalamnya. Saya tentu senang dan katakan akan membantunya sedayamampu saya.

Poinnya, terjadilah “kesepakatan kecil” pada pertemuan itu dan selanjutnya saya menunggu kabar dari dia. Soalnya, urusannya ke pihak Kemenpar adalah urusan dia. “Oke saya tunggu kabar dari kakak,” kata saya menutup pertemuan itu.

Namun, di perjalanan waktu tak ada kabar lagi mengenai rencana event ini, bahkan sebulan menjelang hari H. Karena penasaran, saya pun menghubungi kembali US dan menanyakan rencana itu. Lama tidak direspon, saya pun sudah mengabaikannya dan menganggap event itu tidak jelas atau “cuma cakap saja”—cuma omong doang.

Eh, sekali waktu pada hari Minggu siang, US tiba-tiba menelepon saya. Katanya dia tidak balas telepon dan pesan saya karena masih sibuk sepulang dari Korea Selatan. Kabar tak enak didengar juga disampaikannya ketika itu bahwa event itu diundur hingga Desember 2017. US mengaku kecewa dengan Basar Simanjuntak, pihak dari Kemenpar yang in-charge untuk kalender promosi Danau Toba.

“Saya komplain ke mereka dan minta supaya event ini jangan diundur, soalnya kan sudah banyak pihak yang sudah konfirmasi akan hadir, termasuk buyer saya dari Korea. Saya juga sudah hubungi berbagai pihak untuk ikut serta di event ini. Jika diundur, bagaimana dengan kamar hotel yang mungkin sudah dipesan, tiket pesawat dan lain-lain. Ini membuat saya malu, bla-bla-bla…” katanya dari ujung telepon.

Kecewa dengan pihak Kemenpar yang tidak konsisten, itulah inti yang disampaikan US kala itu. Sayangnya, ketika saya tanyakan apa alasan pengunduran tanggal event itu, US mengatakan ada pihak yang “tidak senang” dengan dia. O, begitukah? Ingin percaya, tapi apa buktinya agar saya bisa percaya semua ucapan dia? Ah, sudahlah.

Dari awal sebenarnya, saya ingin menanyakan apakah penunjukkan US sebagai “event organizer” untuk Coffee Festival Toba melalui proses lelang melalui LPSE Kemenpar atau penunjukkan langsung? Jika ya, mana buktinya, bla-bla-bla…

Namun, saya tidak ingin masuk terlalu jauh karena saya baru mengenal US. Hanya dan Tuhan yang tahu bagaimana proses penunjukan dirinya. Sehingga, tidak begitu mudahnya terjadi perubahan. Yang bikin saya sedikit percaya kepada dia, sepanjang pembicaraan pada pertemuan awal, dia mengaku dekat dengan beberapa orang penting di Kemenpar dan Kemendag. Itu pula yang menjadikan dirinya pernah diikutsertakan pada acara promosi kopi Indonesia ke luar negeri.

“Saya kenal dekat dengan Basar Simanjuntak, dan saya juga beberapa kali sudah bertemu Menpar,” ujarnya bangga sambil membuka ponselnya dan menunjukkan foto-fotonya saat menghadiri beberapa acara dengan pihak Kemenpar. Lantas, kalau dekat mengapa event itu bermasalah? Masalahnya ada pada siapa sekarang? Apakah dengan pihak Kemenpar atau US, saya tidak tahu.

Tak ingin dipecundangi begitu saja, US sempat mengatakan akan memberitakan penundaan event itu semua media lokal. “Saya akan audiensi dan jelaskan mengapa ini semua terjadi,” ujarnya. Saya ikuti saja apa mau US tapi tak mau lagi ikut-ikutan dengan dia, karena sudah merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Akhirnya, US pun audiensi ke Tribun Medan dan dia mengirimkan print screen beritanya kepada saya via WhatsApp. Namun, saya bingung. Kenapa isi beritanya bukan tentang pengunduran event Coffee Festival Toba? Kok, dia malah bercerita tentang upaya memasarkan kopi Indonesia ke luar negeri? Bah, makin bingung akun dengan jalan pikiran di US ini. Ya sudahlah, lakukanlah apa yang mau kau lakukan, begitu sikap saya jadinya.

Beberapa hari kemudian, US menelepon saya lagi. Katanya, event sejenis Coffee Festival Toba akan digelar bersamaan dengan event konser Tobatak di Samosir. Tapi, event itu tidak ada sangkut pautnya dengan Kemenpar. Dia mengaku kenal dengan panitianya dan kemungkinan besar akan ikut meramaikan event itu. “Nanti kau ikut di sini ya bantu-bantu,” katanya.

Tapi, bukan US namanya kalau tidak aneh. Lama tak terdengar kabar, suatu kali ia meneleponku untuk mengajak bertemu pada hari itu juga. Saya katakan tidak bisa karena ada kesibukan. Saya bisa besoknya. Nggak bisa, kalau bisa datang hari ini, katanya. Ups!

Memang benarlah US merancang Festival Coffee Toba dan akhirnya menggelarnya di Samosir. Namun, belakangan, ia mengaku kecewa karena Gubernur Sumut, T Erry Nuradi tidak hadir pada acara pembukaan. Lho, apakah ketidakhadiran sang Gubsu menjadi penghambat visi US untuk mengangkat potensi lokal? Kenapa terkesan begitu birokratis dan politis?

Ini hanya satu kisah nyata dalam perkopian kita. Ternyata, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kopi tanpa intrik politik sepertinya tak lengkap. Masih saja ada orang yang menilai kopi merupakan komoditas dagang semata, yang akhirnya menjadikan festival kopi yang hanya cakap saja. Punya mimpi besar, tapi kerap lupa akar rumput.

Yah, begitulah…

Penulis, editor, blogger, founder Blogger Medan Community, tinggal di Medan. Bermain gitar klasik di waktu senggang, penikmat manual brewing coffee. Dapat dihubungi via email tonggo17@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Demi Festival Kopi Kelas Internasional, Katanya…

Mengintip Strategi Bisnis Otten Coffee