in ,

Demi Festival Kopi Kelas Internasional, Katanya…

Tulisan saya mengenai wacana menggelar festival kopi lokal di Medan ternyata mendapat respon dari salah seorang pembaca. Tulisan berjudul “Sumatra Coffee Festival, Sebuah Wacana”, yang saya posting di blog lama Kopibrik itu, rupanya menginspirasi seorang yang mengaku pecinta kopi, sebut saja namanya Mr. X.

Jadi, suatu ketika si Mr. X ini bikin draft proposal, lengkap dengan run down acara, plus siapa yang akan membuka event itu—tentunya orang penting. Biasalah, acara kalau tak dibuka orang penting rasanya gimana gitu—kurang resmi, kurang afdol, kurang ini dan itulah pokoknya.

Dia tinggalkan satu bundel proposal di kedai kopi seorang teman, sebut saja namanya Mr. Y. Saya pun membacanya. Bagus ini, komentar saya waktu itu. Tapi, belum sempat bertemu dia waktu itu. Saya bahkan belum mengenal dia, tapi katanya dia sudah baca tulisan saya dan satu ide dengan saya. Karena itu, dia ingin ajak saya bertukar pikiran. Bah, awak ini apalah, cuma tahunya nulis. Bikin kopi pun cuma bisa manual brewing dan kopi tubruk di rumah, tak pandai bikin kopi latte. Tapi, katanya, bukan itu yang dia nilai. Gagasan saya. O itu, baiklah kalau begitu. Aku jadi sedikit tersanjung.

Jadi, waktu itu kami punya kumpulan orang-orang yang suka duduk-duduk sambil ngopi lalu saling melemparkan ide untuk mengembangkan kopi lokal. Kami kumpul, tanpa nama. Lalu, si Mr. X rupanya mencium kalau kami punya komunitas. Lalu, gabunglah dia. Ajak-ajaklah aku woi, katanya. Manalah mungkin kami tolak, jawab kami. Yah, gaya Medan-lah berbalas pantun.

Eh, rupanya dia punya usaha event organizer. Dia punya usul supaya komunitas kami punya nama biar bisa masukkan anggaran di proposal untuk bikin event kopi. Hhhm, begitu mencium ada aroma uang, terang saja berbagai reaksi muncul. Ada yang langsung hijo matanya, ada yang selo-selo saja. Tapi, tak apalah. Itu wajar saja. Komunitas kopi itu pun kami beri nama yang keren.

Rupanya, proposal dia gol. Satu perusahaan rokok menyetujui untuk bikin acara ngumpul-ngumpul ngopi. Tempatnya berpindah-pindah dari kafe ke kafe. Orang-orangnya itu saja, kadang bertambah. Aku ikut sampai tiga kali. Eh, proposal keduanya gol lagi untuk bikin acara kopi dan dunia wirausaha. Kata Mr. X, event-event itu merupakan jalan menuju event kopi kelas internasional di Medan. O, bagus itu.

Dia terus bergerak menyusun kekuatan, termasuk ke komunitas. Berhembus kabar, ia tersinggung karena tidak dimasukkan sebagai pengurus komunitas. Tapi, dia merasa komunitas itu sudah jadi milik dia hingga pada suatu titik dia asal memasukkan logo komunitas untuk materi promosi acara festival kopi internasional itu.

Salah seorang pengurus menegurnya karena mengganggap kelakuannya melanggar etika, tidak punya koordinasi yang baik dan hanya mementingkan kepentingan pribadi. Ketika dia ditegur, dia malah tak senang dan terus bergerak melakukan apa yang dia mau.

Komunitas terpecah, event dia tetap jalan. Dia dapat untung. Katanya, untuk bayar gaji timnya dan management fee EO-nya. Pertanyaannya, apakah ini semua demi kopi? Inikah artinya semboyan “dalam kopi kita bersaudara?”

Memang, waktu itu seorang teman berujar, kalau sudah disusupi kepentingan atas nama uang, komunitas ini akan pecah. Benarlah apa kata teman itu.

Aku tidak peduli berapa besar uang yang sudah didapat Mr. X dari event festival kelas internasional yang sudah dia garap berapa kali itu. Aku hanya menyayangkan mengapa harusnya kopi yang mempersatukan justru malah memecah. Hmm, warisahan divide et impera rupanya masih tertinggal, meskipun pencetusnya sudah meninggalkan negeri ini.

Coba runut apa yang telah menjadi korban demi festival kopi kelas internasional itu? Komunitas yang dulunya tak peduli nama bahkan embel-embel uang di setiap acara, terpecah sudah. Lalu, sudahkah event itu punya feedback terhadap petani kopi lokal, pebisnis kedai kopi lokal, telah menambah kunjungan wisatawan ke kota ini. Bukankah itu visi event festival kopi internasional itu, seperti dituliskannya di proposal? Atau, apakah itu hanya proyek yang hanya menghabiskan anggaran demi management fee sekian persen?

Hanya Mr. X yang tahu…

Penulis, editor, blogger, founder Blogger Medan Community, tinggal di Medan. Bermain gitar klasik di waktu senggang, penikmat manual brewing coffee. Dapat dihubungi via email tonggo17@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 Tempat Ngopi di Medan Layak Direkomendasikan

Festival Kopi Toba yang Cuma Cakap Saja